Melacak Sejarah Penanggalan Tahun Baru Islam

Tahun Hijriah merupakan penanggalan yang dinisbatkan kepada peristiwa perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat dari Makkah al-Mukarromah ke Madinah al-Munawwarah (sebelumnya bernama Yatsrib) dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam pada tahun 622 Masehi.

Peristiwa hijrah ini sebuah kejadian luar biasa dalam sejarah perkembangan Islam. Para sahabat yang diketuai Umar bin Khattab sepakat menentukan peristiwa ini awwal perhitungan tahun baru Islam. Hal ini disebabkan beberapa hal, diantaranya:

Pertama, dalam Al Quran ada banyak penghargaan Allah bagi orang yang berhijrah. Kedua, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah hijrah ke Madinah. Kemudian ketiga, umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat hijrah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada suatu keadaan, dan hendaknya berhijrah pada kondisi yang lebih baik.

Perhitungan hijriyah didasarkan pada perputaran bulan (al-Qamar), yang berbeda dengan masehi yang menurut peredaran Matahari. Bulan pertama dalam Hijriah adalah Muharram yang berasal dari kata yang artinya ‘diharamkan’ atau ‘dipantang’, yaitu bulan pelarangan melakukan peperangan dan pertumpahan darah. Selain itu, Bulan Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah memang empat bulan (Asyhurul Hurum) yang dilarang perang sebagaimana yang tertulis dalam Al-Baqarah ayat 217.

Walaupun sudah ribuan tahun berlalu dari peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW, namun esensi hijrah tetap relevan untuk seluruh umat manusia. Hijrah hakekatnya keluar dari kekufuran menuju keimanan. Meninggalkan segala hal yang buruk, negative, maksiat, kondisi yang tidak kondsif, menju keadaan yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan dan melaksanakan ajaran Islam.

Posted in Catatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *